Ini adalah seorang anak yang diilhami Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk teguh, diberi taufiq untuk berada di atas kebenaran dan dilapangkan dadanya dengan keimanan setelah dia mendengar untaian-untaian kalimat jujur yang keluar dari guru dan teman-temannya tentang shalat, keagungan dan kedudukannya dalam syariat.Maka dia pun mendatangi shalat, menjaga kelestariannya, sementara dia diuji dengan kedua orang tuanya yang tidak menjaga shalatnya.
Mulailah sang ibu mengkhawatirkan keluarnya anak ini dari rumah untuk shalat secara umum, terutama untuk shalat subuh. Bahkan sang ibu berusaha agar membuat sang anak mengecualikan subuh dari shalat-shalat lain (dengan tidak mendatanginya keluar dari rumah di pagi hari). Akan tetapi shalat telah tertanam dalam lubuk hati dan rohnya. Sang ayahpun berusaha untuk meringankan larangan sang ibu dengan berkata kepadanya, ‘Jangan engkau halangi keinginannya, itu adalah satu masa dari masa kanak-kanak’.
Hari pun berjalan, sementara apa yang diharapkan oleh sang ayah tidaklah terwujud. Di suatu pagi di hari Jum’at, sang ibu tidak mendengar langkah masuk dan datangnya sang anak dari shalat subuh. Dengan segera sang ibu berdiri








